Kalo saja nanti Presiden terpilih pidato untuk pertama kalinya sebagai pidato kemenangan, mungkin bisa nggak yah mereka pidato se-inspiring ini ???

An inspiring speech from HEROES movie series Session 1 Episode 22 – Landslide,

While Nathan Petrelli gave a speech after winning the election for A New York Congress with 64% againts other candidates.

And from the entire Session 1, this is the best taken scenes part ever had, while Nathan gave a speech, the scenes describing every sentences what he was speaking about.

So, I call this the talking pictures.

Inspiring and touching …. 

[Nathan]
A landslide ..
That’s what they’re calling it.
I’m sorry my brother couldn’t be with us tonight.
But I know that Peter cares about this city more than anyone.

You know, our father always said that
we had a responsibility to use what God gave us.
To help people …
To make a real difference …

Pop always made the hard choices for the greater good …
He believed in that.
And so do I.

Our children deserve that.
They deserve a better future.
A future where they don’t have to face their fears alone,
but can look into the darkness and find hope.

I challenge everyone in here to inspire by example
to fight the battle, no matter the cost.
Because the world is sick and spinning out of control, but we can help.
With our help, it can heal.
With our love, with our campassion, and with our strength, we can heal it

Let’s put aside our differences.
Let’s embrace our common goals.
Let’s do it for our children.
Let’s show them all exactly what we’re capable of.

Thank you all … Thank you very much …

Pasca Pemilu 9 April 2009 lalu menyisakan pengalaman menarik sebagai anggota Panitia Pemilihan Suara (PPS). Meski sebuah keironian terjadi, saya tak berkesempatan untuk dapat memilih. Mungkin ini adalah salah satu contoh carut marut yang kentara dari hancurnya pendataan capem (calon pemilih).

Selama pelaksanaan acara, kami disibukkan dengan aduan dan keluhan perihal ketidak-terdaftarannya para capem. Ada yang satu keluarga terdaftar di DPT,tetapi kepala keluarganya tidak.Ada satu keluarga yang memiliki 4 kartu keluarga (KK), tetapi hanya 2 KK yang terdaftar di DPT, contohnya saya. Ada yang sudah pindah dan meninggal bertahun lamanya, tapi “ajaibnya” masih berhak memberikan suara.

Dugaan sementara, data yang dipakai untuk DPT adalah data Pemilu 2004 lalu. Karena bila data Pilkada Gubernur lalu saja yang dipakai sudah agak mendingan. Ini nggak! Parah!.

Secara umum, jumlah suara tidak sah di TPS ku mencapai 13%. Ketidak-sahan suara ini porsi terbesar ada di bagian DPRD. Karena jumlah kertas yang dua lembar, para pemilih menganggap masing-masing harus di-contreng. Belum lagi dua lembar surat yang terpisah, banyka yang masuk ke kotak suara yang salah (terlepas dari induknya). Sosialisasi harus lebih digencarkan, karena info sosialisasi menjelaskan contreng cukup sekali saja, tapi tidak dijelaskan di tiap lembar atau tidak.

Sedangkan pada proses penghitungan, kita para PPS dibuat susah. Jumlah kertas yang terlalu besar dan berlembar-lembar, membuat kita harus extra hati-hati pada saat mengeluarkannya. Pelipatan yang tidak benar akan membawa akibat kedua lembar akan tercerai-berai ketika masuk ke dalam kotak. Sehingga sering ditemui, satu surat suara DPRD hanya satu lembar saja, yang lain tercerai entah milik pasangan yang mana. Walhasil, ketika maaf-maaf saja, men-diskualifikasi surat tersebut. 13% suara tidak sah, 75% dikontribusi dari terpisahnya surat suara dengan pasangan (induknya).

Kesulitan lain dalam proses penghitungan terjadi pada saat mencari partai yang ditandai oleh pemilih. Tinta merah dan metode menandai, menurut kami merupakan cara yang kurang efektif dan beresiko besar para PPS silap dalam menentukan pilihan pemilih. Proses penghitungan yang hingga larut malam, kondisi peneranganyang kurang memadai, ditambah penggunaan tinta warna merah, serta tanda berupa contreng dan sejenisnya, benar-benar amat menyulitkan perhitungan. Seringkali tanda contreng merah di lambang partai Demokrat, membuat kita terlewat. Padahal lambang partai Demokrat biru, apalagi yang berwarna merah semisal PDIP, PDP, PMB, dan sebagainya. Kami lebih menyukai penandaan berupa coblosan. Lebih jelas dan kentara, dan tidak ragu-ragu dalam menentukan keabsahan surat suara. Dan pemilih pun dibuat lebih mudah dengannya.

Dari total jumlah 930 surat suara, masing 310 untuk DPR, DPD, dan DPRD, butuh 13 jam untuk menyelesaikan proses perhitungan dikurangi istirahat hanya untuk makan dan shalat wajib saja, maka total waktu yan dibutuhkan adalah 12 jam. Ini belum termasuk paper work (administrasi) pengisian sejumlah form-form dan proses (antri) pengembalian ke kecamatan. 12 jam meliputi pengitungan fisik suara, pembukaan dan pelipatan kembali, penyusunan berdasarkan partai, penyusunan dan pengaturan unutk dimasukkan ke dalam kotak suara kembali menurut urutan yang telah ditentukan, dan lain sebagainya. Jadi secara umum, butuh waktu kira-kira 1,5 menit untuk tiap surat suara dalam proses perhitungan. Jadi kalau ada TPS yang jumlah surat suara totalnya 1500, wah wassalam aja dah .. ampe pagi ampe pagi deh!

Sedangkan jumlah orang yang tidak memilih di TPS ku sekitar 34%. Saya lebih cenderung menggunakan kata jumlah yag tidak memilih, bukan Golput. Karena acuannya berdasarkan DPT. Sedangkan seperti disebutkan di atas DPT amburadul. Jadi bisa dikatakan kalau nanti ada lembaga yang mengatakan jumlah Golput adalah 45%, maka 50% lebih dari angka tersebut dikontribusi oleh sistem administrasi pendataan yang amburadul dalam bentuk DPT tersebut. Maka pemenang Golput sebenarnya adalah KPU dengan administrasi yang amburadulnya.

Masih ada waktu 3 bulan unutk berbenah dalam memperbaiki DPT. Jangan berlindung dibalik ketat atau sempitnya waktu. Proses pemanfaatan data dan mekanisme update yang harus dicari dengan cermat dan smart, dengan memberdayakan pranata sosial dan struktural yang ada.

http://www.unilever.co.id/id/ourcompany/beritaandmedia/siaranpers/_2005/RasakanSenangnyaBawaPulangKesannya!.asp

11/09/2005 : Kecenderungan gaya hidup masyarakat urban di kota-kota besar yang memiliki aktifitas cukup padat dan tuntutan pekerjaan yang tinggi tak bisa dipungkiri membuat orang cenderung menjadi pribadi yang individualistis. Kesibukan itu, mau tak mau memudarkan makna pentingnya kebersamaan dalam keluarga.

Sebagai brand yang peduli dengan kualitas hidup keluarga Indonesia, SariWangi ingin mengajak masyarakat untuk mewujudkan dan menghidupkan kembali tradisi kerbersamaan melalui acara keluarga bertema “Lebih Dekat Lebih Hangat Bersama SariWangi”, di Kebun Binatang Surabaya, mulai pukul 10:00 sampai 16:00 WIB.

“SariWangi telah melakukan sebuah studi di kalangan masyarakat urban kota-kota besar Indonesia, dan menemukan bahwa kegiatan sederhana seperti minum teh bersama ternyata dapat menumbuhkan ikatan emosional dalam bentuk kebersamaan yang dewasa ini terasa semakin jarang terwujud antara individu satu dengan individu lainnya,“ kata Maya Shintawati, Brand Manager Sariwangi. Beberapa waktu yang silam, ungkap Maya lebih lanjut, tradisi minum teh bersama keluarga menjadi ajang tempat berkumpulnya anggota keluarga untuk saling berbagi cerita dan kehangatan. Dengan semakin meningkatnya kesibukan masyarakat urban, kebiasaan tersebut kini cenderung ditinggalkan karena setiap anggota keluarga sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

“Melalui acara “Lebih Dekat Lebih Hangat Bersama Sariwangi”, kami ingin mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali kehangatan, kedekatan dan kebersamaan dalam keluarga. Karena keluarga dapat dikatakan merupakan unsur terkecil dalam masyarakat, keluarga yang hangat dan bahagia niscaya akan menjadi awal dari tercapainya masyarakat yang lebih manusiawi dengan kepedulian yang lebih tinggi satu sama lain, ” kata Maya.

Pengamat keluarga urban di Jakarta Kurnia Wahyudi mengatakan, “Kebiasaan minum teh bersama dapat dijadikan sebagai sarana untuk membangun keseimbangan dalam kebersamaan. Dari ritual ini unit keluarga yang semakin sibuk berpacu dengan waktu dan kepadatan kegiatan sehari-hari dapat menikmati kembali kebersamaan tersebut. Sambutan senyum dan cium tangan serta segelas air teh adalah upaya membangun sebuah tradisi. Hal itu dapat dikenalkan sejak dini kepada anak kita dengan menyertakannya dalam menyambut anggota keluarga yang baru tiba. Melalui proses pembelajaran dan pembiasaan, sebuah tradisi dapat dikulturisasikan dan disosialisaikan kepada anak-anak kita, sang penerus nilai-nilai positif keluarga”.

Untuk membangun rasa kebersamaan dalam keluarga, acara “Lebih Dekat Lebih Hangat bersama Sariwangi” menggelar berbagai permainan yang dirancang khusus agar dapat memicu dan mengangkat kembali nilai-nilai penting yang merupakan dasar dari keluarga yang sehat dan harmonis. Acara akan dimeriahkan pula oleh kehadiran bintang cilik Tasya bersama keluarganya, Ibu Rose Mini Prianto, psikolog ternama dari AFI, paduan suara anak Purwacaraka Music Studio Margorejo,

Traffic Band dan atraksi anak-anak lainnya dari sekolah top seputar Surabaya dengan pemandu acara Izur Mochtar. Dalam acara ini juga tersedia beberapa gerai yang menyediakan berbagai macam sajian teh SariWangi dalam berbagai kreasi untuk dinikmati oleh seluruh anggota keluarga.

Selain digelar di Surabaya, acara serupa juga sudah dilaksanakan di Bandung 10 Juli 2005 dan dijadwalkan untuk diadakan di Jakarta pada tanggal 2 Oktober 2005. “Tumbuhnya kehangatan dan kebersamaan dalam keluarga akhirnya memang tergantung pada rasa kepedulian antar anggota keluarga itu sendiri. Acara yang kami hadirkan ini semata adalah sarana untuk menumbuhkan kepedulian tersebut. Kami berharap, nilai-nilai kebersamaan yang dapat ditarik dari berbagai kegiatan yang ada akan dibawa pulang oleh setiap keluarga sebagai kenangan manis yang dapat terus membina rasa ingin bersama di antara mereka,” kata Maya.

Indonesia :
PT Unilever Indonesia

Graha Unilever

Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav 15

Jakarta 12930

T: +62 21 5299 6773

F: +62 21 526 2046

Info.Uli@unilever.com

Finalle …

Pencarian SpokatBoetoet (SB) terhadap blog yang “nyek serrr ” (nancep di hati) diputuskan sudah dulu untuk saat ini. Meski SB sudah kenal blog kurang lebih 4 tahun lalu, tapi waktu itu keterbatasan para provider blog membuat kepuasan untuk memperkasa&perkaya blog bak lemah syahwat adanya, nafsu besar tenaga kurang.

Banyak blog saat itu hanya mampu mem-posting text saja. Keinginan memperkaya ilustrasi dengan image dalam posting kita pun terkendala sarana. Saat itu belum ada provider yang legowo (berbesar hati) dan jumawa (berani dan bangga), menggratiskan posting image sebagai bisnisnya. Karena image selalunya membutuhkan space infra yang nggak sedikit. Pun terkadang yang diupload image yang “nggak-nggak”.

Akhirnya, sempat terfikir bagaimana mensiasatinya. Waktu itu milist groups selain yahoo, hotmail juga punya. Bedanya, milis yang hotmail punya,foto2 posting (upload) nya bisa langsung ditampilin vulgar and naked tanpa ada embel2 iklan, kalo kita klik kanan mouse ’n pilih show picture.

Akhirnya, kita manfaatin lah “kelemahan” hotmail groups foto image ini. Lumayan, bisa posting banner and image di dalam tulisan blog kita. Tapi itu tak berlangsung lama, hotmail pun menutup “fasilitas” itu.

Provider image posting pun saat itu nggak ada yang se robin-hood seperti yang banyak ada sekarang ini. Ribet, kudu jadi member dulu ’n butuh login (otorisasi) buat nampilin image.

Tapi kesimpulan akhir ada pada kata nothing is perfect in this world!.

So, SB putuskan membagi blog SB punya dalam tiga di blog provider, selain sebagai contigency juga memanfaatkan kelebihan blog tersebut. SB putuskan menggunakan blogspot, multiply, dan wordpress dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Semoga, pencarian ini benar-benar berakhir adanya …

Pencarian yang benar-benar “nyek serrr” ….

SpokatBoetoet (SB)

Ketika aku sudah tua,
bukan lagi aku yang semula muda.
mengertilah … bersabarlah sedikit terhadapku.
 
Ketika pakaianku terciprat sup,
ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu,
ingatlah … bagaimana dahulu aku mengajarmu.

Ketika aku berulang-ulang berkata-kata
tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar,
bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.
Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita
yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tertidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku,
Janganlah kau marah padaku.
Ingatkah kau sewaktu masih kecil
aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?

Ketika aku tak paham sedikitpun
tentang teknologi dan hal-hal baru,
janganlah kau mengejekku.
Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar
menjawab setiap kata “mengapa” darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan,
ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku.
Seperti aku memapahmu,
saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita,
berilah aku waktu untuk mengingat.
Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting,
asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.

Ketika kau memandang aku yang mulai menua,
janganlah berduka…
Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu
ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan.
Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini,
sekarang, temani aku menjalankan sisa hidupku.
Beri aku cintamu dan kesabaran,
aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur,
dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu…

dari ayah & bunda

Banyak teknik disiplin membuat anak merasa harus menyenangkan orang tua agar bisa disayang. Bagaimana mendisiplin anak secara halus itu? Lulu bermain terus saat pelajaran menyusun balok bangunan. Akhirnya, Bu Guru menyuruh bocah berumur lima tahun itu meninggalkan karpet, untuk membaca buku. ’’Begitu siap, Lulu kembali ke sini ya?’’ kata Bu Guru.

Cara ini tak langsung berhasil. Namun, akhirnya Lulu siap mengikuti kegiatan menyusun balok bangunan. Metode pendisiplinan yang digunakan guru Lulu bisa disebut time away. Time away adalah salah satu cara pendisiplinan yang disinggung oleh Kerry Jones dalam seminar Managing Children’s Behaviour di Jakarta, Sabtu (21/5).

Ada banyak cara pendisiplinan anak. Mulai dari memukul, menjewer, menyelentik, hingga mengata-ngatai anak dengan kata-kata menyakitkan. Belakangan, orang tua mulai meninggalkan hukuman fisik. Teknik time out pun kemudian banyak menjadi pilihan.

Time out biasa dijalankan dengan cara menyuruh anak ke sudut ruangan yang kosong untuk beberapa menit sampai ia bisa mengendalikan diri. Bisa juga dilakukan dengan cara mengambil hal-hal yang disukainya untuk sementara waktu. Misalnya, melarang nonton tv untuk beberapa hari, memotong uang saku.

Orang tua dan pendidik masa kini cenderung menggunakan teknik yang lebih halus, tapi tak kurang mengontrol. Dari sudut pandang ini, berbagai hukuman, termasuk time out, bahkan juga pemberian hadiah atas suatu perbuatan adalah pelbagai bentuk kontrol orang tua dan guru. Pesan yang tertangkap oleh anak, mereka disayangi hanya bila mereka menyenangkan hati orang tua.

Padahal, bukan itu sebenarnya pesan yang ingin disampaikan sebagian besar orang tua maupun guru di sekolah.
Mengontrol diri sendiriTime out juga termasuk tindakan mengontrol anak. Alih-alih merenungkan perbuatan buruk yang dilakukannya, anak-anak saat dikenai time out justru melakukan yang lain. ’’Selama (time out–red) itu, ia mengejek, atau memikirkan cara membalas (hukuman itu –red) Anda?’’ kata Jones yang juga wakil kepala sekolah sebuah sekolah nasional plus di Jakarta.

’’Cara ini berhasil untuk jangka pendek,’’ kata wanita bertubuh tegap itu. Misalnya, anak akan menghentikan perbuatan mengganggunya. Tapi, dari pengalamannya, Jones menyangsikan keefektifan time out untuk jangka panjang. Karena itu, ia menyimpulkan, pada banyak kasus, time out tidak efektif.

Salah satu cara yang tak bersifat menghukum adalah dengan memberi kesempatan anak untuk mengontrol dirinya sendiri. Orang menyebutnya teknik disiplin positif. Salah satunya dengan cara time away. Sebenarnya, time away hampir mirip dengan time out. Jadi, anak dihentikan dari keadaan di mana ia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri dan memerlukan waktu beberapa menit untuk memulihkan keadaannya.

Time away tak hanya bisa dilakukan di sekolah. Time away, menurut Kerry Jones, justru lebih mudah dilakukan di rumah. Sebab, orang tua lebih mengenal anak, lebih mengetahui kegiatan yang disukai sang anak. Bila time out, anak disuruh masuk kamar. Tapi, time away, anak disuruh memilih kegiatan yang disukainya dalam waktu tertentu. Bila selesai, saran Jones, ajak anak bicara mengapa ia harus melakukan pekerjaan atau tugas itu.

’’Intinya, membangun pengertian anak,’’ kata pendidik asal Australia yang mempunyai pengalaman lebih dari 15 tahun di bidang usia dini ini. ’’Berbicara itu penting.’’ Bila anak tak mau membantu pekerjaan rumah tangga, misalnya, Jones menyarankan agar orang tua memberi penjelasan. Anak perlu tahu pentingnya ia melakukan pekerjaan itu untuk dirinya dan orang lain. Misalnya, jika ia membersihkan kamar, kamar menjadi bersih, tidur jadi enak, dan menimbulkan rasa nyaman.

Nah, bila anak selalu menolak, kata Jones, minta anak menyatakan saat ia siap melakukan tugasnya. Dan, ia harus melakukannya saat yang dijanjikannya. Kepada peserta seminar yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pendidik Anak Usia Dini Indonesia ini, Jones menjelaskan, metode pendisiplinan ini memberi anak lebih banyak peluang untuk membuat keputusan. Sebab, bagaimanapun juga, anak belajar cara membuat keputusan yang baik adalah dengan membuat keputusan, bukan dengan mengikuti instruksi.

Konsekuensi logis dan alami
Mendisiplin anak tanpa menghukum muncul dari kalangan yang memegang prinsip unconditional love (cinta tanpa syarat) antara orang tua dan anak. Namun, kalangan ini tak sependapat bila mereka mengembangkan pola asuh permisif. Pandangan ini menyebut banyak cara mendisiplin anak tanpa menyakiti hati anak. Selain time away, Jones menyebut, disiplin bisa dipelajari melalui pengalaman konsekuensi alami dan logis.

Konsekuensi alami memungkinkan anak mengalami konsekuensi yang secara alamiah terjadi sebagai hasil dari tindakan mereka. Misalnya, jika sikecil menolak menyimpan mainannya yang tergeletak di belakang mobil di garasi, Ayah menabraknya saat berangkat kerja esok harinya. Soalnya, ayah tak tahu barang itu ada di sana. Anak akan ingat untuk menyimpan mainannya di hari-hari berikutnya. Tentu saja, ada konsekuensi alami yang tak boleh dilakukan orang tua, misalnya konsekuensi alami bermain di jalan.

Konsekuensi logis adalah konsekuensi yang secara logis berhubungan dengan perilaku anak. Misalnya, si kecil menolak menyimpan mainannya, dan diingatkan jika tidak disimpan, ayah dan ibu akan menyimpan untuk beberapa waktu. Maka, anak yang tak menyimpan mainannya dan mainan itu disingkirkan orang tuanya akan belajar menyimpannya saat diminta.

Konsekuensi yang secara logis tak berhubungan dengan perilaku anak seperti halnya melarang menonton televisi karena tidak menyimpan mainan. Penting dicatat, tak ada satu cara disiplin yang mudah. Tak ada pula cara mendisiplin anak yang benar atau yang salah. Setiap anak, setiap orang tua, dan setiap keluarga berbeda dan perlu mencari paduan teknik disiplin yang cocok bagi mereka.

Sebuah fenomena yang sering terjadi adalah orang tua begitu mengekang kebebasan anak, walaupun memang di mata kita, para orang tua, adalah baik maksudnya. Tapi apakah anak- anak dapat menangkap pesan maksud baik tersebut? Mereka teramat kecil untuk dapat mengerti. 

Contoh sederhana adalah, kita sering mendapati anak kita berlari ke sana kemari hingga kurang memperdulikan keselamatan mereka sendiri. Kita sebagai orang tua merasa “ngeri” kalau-kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti jatuh, menabrak benda keras, dan lain sebagainya, yang dapat membahayakan keselamatan sang anak. Melihat kondisi anak seperti itu (suka berlari-lari), biasanya kita sebagai orang tua akan langsung menasehatinya atau melarangnya atau memarahinya. 

Sekarang mari kita coba mempersulit keadaannya? 

Andaikan akhirnya anak Anda yang sedang berlari-lari tersebut jatuh, padahal sebelumnya sudah berbusa mulut Anda menasehatinya agar jangan berlari-larian. Apa yang Anda lakukan? 

Menurut pengalaman saya pribadi ada dua perlakuan yang umum dilakukan. 

Pertama, respon refleks umumnya orang tua adalah langsung memarahi anak akibat tidak mau mendengar perkataan mereka. Kalau pun tidak memarahinya, mereka melakukannya dengan cara lain yakni mengingatkannya dengan nada tinggi. 

Mungkin kira-kira begini, “Tuh kan apa Ibu/Ayah bilang! Jangan lari-lari .. jadi jatuh, kan! Anak bandel, tidak mau mendengar kata-kata orang tua! Huh!” Kondisi yang lebih ekstrem yang lain adalah seraya berkata/membentak terkadang dibarengi dengan kekerasan tangan (memukulnya), hingga anak pun dibuat menangis karenanya. Kemungkinan besar sang anak menangis bukan akibat dari jatuhnya, tapi karena bentakan atau pukulan orang tua. 

Kedua, berusaha untuk tampil empati tapi tetap memarahi atau membentaknya. Misalnya dengan perkataan sebagai berikut, “Aduh adik jatuh, ya! Sakit? Makanya apa Mama/Papa bilang. Nggak mau dengar sih perkataan Mama/Papa. Jadi begini akibatnya! Makanya lain kali dengar kata-kata Mama, ya…”, dengan suara yang datar cenderung datar tanpa intonasi tinggi. 

Ungkapan kondisi pertama adalah bentuk contoh “judgement” (penghukuman). Artinya, anak langsung diberi hukuman akan tindakan pelanggaran yang dilakukannya (karena tidak mendengar perkataan orang tuanya). Sedangkan, ungkapan kondisi kedua adalah bentuk contoh “semi judgement dan empati”. Kondisi ini agak lebih baik, tapi tetap dapat meninggalkan kesan kejadian berulang pada anak. Maksudnya adalah anak akan berkemungkinan besar melakukan perlakuan yang sama dilakukan oleh orang tua kepada dirinya terhadap situasi serupa yang dihadapinya kepada orang lain. 

Sekarang coba Anda bayangkan (dari hasil perlakuan kondisi pertama dan kedua di atas) bila sang anak memiliki seorang adik, dan ternyata adiknya melakukan tindakan yang persis dilakukannya, yakni berlari-larian. Sang anak mengingatkan si adik untuk jangan berlari-larian, persis seperti yang dilakukan orang tua terhadap dirinya dan ternyata sang adik mengalami situasi yang sama dengan dirinya yakni jatuh. 

Kira-kira berdasarkan pengalaman empiris sebelumnya, perlakuan apa yang akan dilakukan sang kakak terhadap adiknya? 

Seorang anak adalah perekam yang sangat kuat. Anak memiliki kemampuan photo-memory yang sangat tinggi. Bila kita mengharapkan seorang anak yang memiliki sifat & sikap empati yang tinggi, maka seyogyanya dilatih sejak dini. Jadi, bila kita berharap sang anak bersikap empati apabila melihat adiknya terjatuh, maka kita diharapkan untuk bertindak serupa terhadap dirinya. 

Kisah di atas akan lain ceritanya bila sang ayah/ibu bersikap empati terlebih dahulu ketika mendapati anaknya terjatuh, baru kemudian judgement. 

“Aduh … adik jatuh ya! Sakit? Mana yang sakit? Sini ayah/ibu obati …” sambil memberikan perhatian terhadap lukanya, jikalau perlu mengobatinya, baru kemudian setelah selesai diobati kita dapat menasehatinya, “Makanya, lain kali lebih hati-hati ya! Tolong dengarkan apa kata ayah/ibu … Adik mau janji?” 

Semoga bermanfaat dan mendatangkan kebenaran 

Salam, Kurnia Wahyudi